“Anakku Kok Makin Diam?”: Mendengar Aktif untuk Membangun Kedekatan Anak–Orang Tua
29 January 2026
“Anakku kok makin diam?” sering diucapkan dengan nada bingung, kadang cemas, kadang bercampur kesal. Padahal, diam pada anak jarang muncul tanpa alasan. Ia biasanya bukan tanda tidak punya cerita, melainkan tanda bahwa bercerita tidak lagi terasa aman.
Banyak orang tua merasa sudah hadir: bertanya, menasihati, mengingatkan, mengoreksi. Namun kehadiran emosional tidak selalu sama dengan kehadiran fisik atau verbal. Anak bisa dikelilingi perhatian, tetapi tetap merasa sendirian.
Dalam relasi orang tua–anak, mendengar bukan sekadar menunggu giliran berbicara. Mendengar adalah kemampuan untuk menahan penilaian, menunda nasihat, dan memberi ruang pada pengalaman emosional anak bahkan ketika ceritanya terdengar sepele atau tidak masuk akal bagi orang dewasa.
Psikologi perkembangan menunjukkan bahwa kualitas keterikatan emosional anak sangat dipengaruhi oleh sejauh mana figur pengasuh responsif terhadap sinyal emosionalnya. Anak yang merasa didengar cenderung lebih aman mengekspresikan diri. Sebaliknya, anak yang berulang kali merasa diabaikan atau disalahpahami akan belajar menyimpan ceritanya sendiri.
Di sinilah active listening atau mendengar aktif menjadi krusial. Mendengar aktif berarti hadir penuh dengan perhatian, bahasa tubuh, dan respons yang menunjukkan bahwa cerita anak penting. Bukan sekadar “oh begitu,” sambil tetap memegang ponsel atau menyiapkan sanggahan.
Masalahnya, banyak orang tua mendengar untuk memperbaiki, bukan untuk memahami. Ketika anak bercerita tentang kesedihan, yang muncul adalah nasihat. Ketika anak mengeluh, yang keluar adalah perbandingan. Ketika anak marah, responsnya koreksi. Perlahan, anak belajar bahwa bercerita akan selalu berujung evaluasi.
Penelitian dalam psikologi komunikasi keluarga menunjukkan bahwa anak lebih terbuka secara emosional ketika orang tua menggunakan respons empatik dibandingkan respons direktif atau mengontrol. Respons empatik tidak menghilangkan peran orang tua, tetapi menunda intervensi hingga anak merasa aman.
Mendengar aktif sering kali sederhana, tetapi menantang. Ia hadir dalam kalimat seperti, “Kedengarannya itu bikin kamu kecewa,” atau “Kamu kelihatannya capek banget hari ini.” Tidak ada solusi, tidak ada ceramah. Hanya pengakuan.
Keheningan anak sering kali bukan masalah perilaku, melainkan pesan relasional. Ia memberi tahu bahwa ada jarak yang belum dijembatani. Dan jarak itu jarang tertutup oleh pertanyaan yang lebih banyak, tetapi oleh kualitas mendengar yang lebih dalam.
Membangun kedekatan dengan anak tidak selalu berarti menjadi orang tua yang sempurna atau selalu tahu jawabannya. Kadang, yang paling dibutuhkan anak hanyalah seseorang yang mau duduk, mendengar, dan tidak buru-buru memperbaiki.
Karena sebelum anak siap mendengarkan orang tua, ia perlu merasa didengarkan terlebih dahulu.
Toko psikologi terpercaya yang menyediakan jurnal psikologi, alat tes psikologi, dan berbagai produk mental health berkualitas untuk kebutuhan pribadi maupun profesional - www.tokopsikologi.com -
Referensi
Bowlby, J. (1988). A secure base: Parent-child attachment and healthy human development. Basic Books.
Gottman, J. M., Katz, L. F., & Hooven, C. (1996). Parental meta-emotion philosophy and the emotional life of families: Theoretical models and preliminary data. Journal of Family Psychology, 10(3), 243–268. https://doi.org/10.1037/0893-3200.10.3.243