“Jangan Nangis!”: Belajar Validasi Emosi Anak | Toko Psikologi

“Jangan Nangis!”: Belajar Validasi Emosi Anak

29 January 2026

“Jangan nangis.” Kalimat ini sering diucapkan dengan niat baik. Orang tua ingin anaknya kuat, cepat tenang, dan tidak larut dalam emosi. Namun, bagi anak, kalimat tersebut kerap terdengar bukan sebagai penenang, melainkan penolakan. Seolah-olah perasaannya tidak layak hadir.

Menangis adalah bahasa emosional paling awal yang dimiliki anak. Sebelum mampu menjelaskan perasaan dengan kata-kata, anak menggunakan tangis untuk memberi tahu bahwa ada sesuatu yang tidak nyaman. Ketika respons pertama yang ia terima adalah larangan, anak belajar bahwa emosi tertentu sebaiknya disimpan, bukan dipahami.

Dalam psikologi perkembangan, kemampuan anak mengelola emosi tidak tumbuh dari penyangkalan, melainkan dari pendampingan. Anak belajar mengenali, menamai, dan menenangkan emosinya melalui interaksi dengan orang dewasa yang responsif. Emosi yang diterima lebih mudah dipelajari untuk diatur.

Sayangnya, validasi emosi sering disalahpahami sebagai memanjakan. Padahal, memvalidasi emosi tidak sama dengan menyetujui perilaku. Orang tua tetap bisa menetapkan batas, sambil tetap mengakui perasaan anak. “Ibu tahu kamu marah karena mainannya diambil, tapi memukul tetap tidak boleh,” adalah contoh bagaimana emosi diakui tanpa membenarkan tindakan.

Penelitian menunjukkan bahwa anak yang mendapatkan respons empatik dari orang tua cenderung memiliki regulasi emosi yang lebih baik dan hubungan yang lebih aman dengan figur pengasuhnya. Anak tidak menjadi lemah karena emosinya diterima; justru ia belajar bahwa emosi bisa dihadapi tanpa takut.

Kalimat sederhana seperti, “Kamu sedih, ya,” atau “Kelihatannya itu bikin kamu kecewa,” membantu anak merasa dipahami. Dari rasa dipahami itulah ketenangan perlahan muncul. Bukan karena emosi dipaksa hilang, tetapi karena emosi diberi tempat.

Melarang anak menangis mungkin menghentikan suara, tetapi tidak menghentikan perasaan. Emosi yang tidak mendapat ruang justru mencari jalan lain untuk keluar bisa lewat ledakan, penarikan diri, atau kebingungan emosional di kemudian hari. 

Belajar memvalidasi emosi anak berarti belajar menemani, bukan mempercepat. Menahan keinginan untuk segera menenangkan, dan memilih untuk terlebih dahulu memahami.

Karena sebelum anak bisa belajar mengendalikan emosinya, ia perlu tahu bahwa emosinya aman untuk dirasakan.

 

Toko psikologi terpercaya yang menyediakan jurnal psikologi, alat tes psikologi, dan berbagai produk mental health berkualitas untuk kebutuhan pribadi maupun profesional - www.tokopsikologi.com -

 

Referensi

Denham, S. A., Bassett, H. H., & Wyatt, T. (2015). The socialization of emotional competence. In J. E. Grusec & P. D. Hastings (Eds.), Handbook of socialization: Theory and research (2nd ed., pp. 590–613). The Guilford Press.

Eisenberg, N., Cumberland, A., & Spinrad, T. L. (1998). Parental Socialization of Emotion. Psychological Inquiry, 9(4), 241–273. https://doi.org/10.1207/s15327965pli0904_1