Terbaru
30 January 2026
“Aku Takut Salah Ngomong”: Kepercayaan Diri dalam Interaksi Sosial
“Aku takut salah ngomong.” Kalimat ini jarang terdengar dramatis. Ia muncul pelan, sering kali hanya di kepala. Saat ingin menanggapi, lalu memilih diam. Saat ingin bertanya, lalu mengurungkan niat. Bukan karena tidak punya pendapat, tetapi karena takut dinilai. Takut salah ngomong bukan semata soal kata-kata. Ia tentang kekhawatiran akan konsekuensi sosial: dianggap bodoh, tidak pantas, berlebihan, atau merepotkan. Dalam interaksi sosial, ancaman terbesar sering kali bukan penolakan yang nyata, melainkan penilaian yang kita bayangkan. Psikologi sosial menjelaskan bahwa kecemasan dalam situasi sosial berkaitan erat dengan fokus berlebihan pada diri sendiri bagaimana suara kita terdengar, bagaimana ekspresi kita terlihat, bagaimana orang lain menilai kita. Alih-alih hadir dalam percakapan, perhatian tersedot ke pengawasan diri yang melelahkan. Di titik ini, kepercayaan diri sering disalahpahami sebagai sifat bawaan. Ada yang “memang pede”, ada yang tidak. Padahal, kepercayaan diri dalam berinteraksi lebih dekat dengan self-efficacy keyakinan bahwa kita mampu menghadapi situasi tertentu. Ia bukan soal selalu benar, melainkan soal percaya bahwa kita bisa bertahan bahkan ketika tidak sempurna. Masalahnya, banyak orang tumbuh dalam lingkungan yang sensitif terhadap kesalahan. Salah bicara langsung dikoreksi, ditertawakan, atau diingat-ingat. Dari sana, otak belajar satu hal: lebih aman diam daripada salah. Diam menjadi strategi bertahan, meski dibayar dengan jarak sosial. Ketika rasa takut salah ngomong terus dipelihara, interaksi sosial berubah menjadi medan evaluasi. Kita berbicara sambil menimbang, mendengar sambil bersiap membela diri. Koneksi pun terasa kaku. Bukan karena kita tidak mampu berelasi, tetapi karena kita terlalu sibuk menjaga citra. Penelitian tentang kecemasan sosial menunjukkan bahwa menghindari berbicara memang mengurangi cemas sesaat, tetapi justru memperkuat ketakutan dalam jangka panjang. Rasa aman semu ini membuat kepercayaan diri tidak pernah mendapat kesempatan untuk tumbuh. Membangun kepercayaan diri dalam interaksi sosial bukan berarti berbicara tanpa saringan. Ia dimulai dari menggeser tujuan: dari ingin dinilai baik menjadi ingin terhubung dengan cukup jujur. Dari ingin sempurna menjadi ingin hadir. Kadang, keberanian paling sederhana adalah mengizinkan diri terdengar biasa. Tidak selalu cerdas. Tidak selalu tepat. Tetapi nyata. Kesalahan kecil dalam percakapan jarang diingat orang lain selama yang kita bayangkan. Kepercayaan diri tidak tumbuh dari tidak pernah salah ngomong. Ia tumbuh dari pengalaman bahwa meski pernah salah, kita tetap aman. Tetap diterima. Tetap bisa melanjutkan. Dan mungkin, saat rasa takut itu muncul lagi, kita bisa mengingat satu hal: tujuan berbicara bukan untuk tampil sempurna, tetapi untuk terhubung. Sisanya bisa menyusul. Toko psikologi terpercaya yang menyediakan jurnal psikologi, alat tes psikologi, dan berbagai produk mental health berkualitas untuk kebutuhan pribadi maupun profesional - www.tokopsikologi.com - Referensi: Bandura, A. (1997). Self-efficacy: The exercise of control. W. H. Freeman. Clark, D. M., & Wells, A. (1995). A cognitive model of social phobia. In R. G. Heimberg, M. R. Liebowitz, D. A. Hope, & F. R. Schneier (Eds.), Social phobia: Diagnosis, assessment, and treatment (pp. 69–93). The Guilford Press.
29 January 2026
“Aku Takut Ngomong Kalau di Sini”: Psychological Safety dalam Hubungan Sosial
“Aku takut ngomong kalau di sini.” Kalimat ini sering tidak diucapkan. Ia hadir sebagai jeda yang terlalu panjang, tawa yang dipaksakan, atau anggukan tanpa suara. Bukan karena tidak punya pendapat, tetapi karena merasa tidak aman untuk mengeluarkannya. Takut berbicara jarang tentang kurangnya kepercayaan diri semata. Lebih sering, ia tentang konteks. Tentang ruang sosial yang memberi sinyal halus atau terang-terangan bahwa salah bicara akan berujung pada penghakiman, ejekan, atau pengucilan. Dalam psikologi organisasi, istilah psychological safety merujuk pada keyakinan bahwa seseorang aman untuk mengambil risiko interpersonal: bertanya, berbeda pendapat, mengakui kesalahan, atau mengekspresikan diri tanpa takut dipermalukan atau dihukum. Meski konsep ini banyak dibahas di tempat kerja, esensinya sangat relevan dalam hubungan sosial sehari-hari. Ketika psychological safety rendah, orang belajar menyaring diri secara berlebihan. Mereka berbicara seperlunya, menyembunyikan ketidaksetujuan, dan memilih diam sebagai strategi bertahan. Diam ini sering disalahartikan sebagai ketidakpedulian, padahal ia adalah bentuk kewaspadaan. Penelitian menunjukkan bahwa lingkungan dengan psychological safety yang rendah berkaitan dengan minimnya partisipasi, keterbukaan, dan kelekatan emosional. Bukan karena orang tidak punya sesuatu untuk disampaikan, tetapi karena risiko terasa lebih besar daripada manfaatnya. Menariknya, rasa takut berbicara sering kali bukan tentang satu kejadian besar, melainkan akumulasi respons kecil: komentar yang diremehkan, candaan yang menusuk, atau ekspresi wajah yang menghakimi. Dari sana, tubuh belajar membaca pola dan memilih diam sebelum terluka. Psychological safety bukan berarti semua orang harus selalu setuju. Justru sebaliknya. Ia adalah kondisi di mana perbedaan tidak mengancam relasi. Di mana konflik bisa dibicarakan tanpa membuat seseorang merasa diserang sebagai pribadi. Dalam hubungan yang aman secara psikologis, kalimat seperti, “Aku beda pendapat,” atau “Aku ga nyaman dengan itu,” tidak langsung dibalas dengan defensif. Ada ruang untuk mendengar sebelum menilai. Ada jeda sebelum menyimpulkan. Rasa aman ini tidak dibangun dari satu pihak saja. Ia tumbuh dari pola interaksi yang konsisten: respons yang tidak merendahkan, kesediaan mengakui kesalahan, dan sikap terbuka terhadap perspektif lain. Hal-hal kecil, tapi berdampak besar. Mungkin, ketika seseorang berkata, “Aku takut ngomong kalau di sini,” pertanyaannya bukan kenapa dia sensitif, tetapi apa yang membuat ruang ini terasa tidak aman. Karena keberanian berbicara tidak selalu soal kekuatan individu sering kali soal kualitas relasi. Dan hubungan sosial yang sehat bukan yang paling ramai suaranya, tetapi yang cukup aman untuk menampung kejujuran. Toko psikologi terpercaya yang menyediakan jurnal psikologi, alat tes psikologi, dan berbagai produk mental health berkualitas untuk kebutuhan pribadi maupun profesional - www.tokopsikologi.com - Referensi Edmondson, A. (1999). Psychological safety and learning behavior in work teams. Administrative Science Quarterly, 44(2), 350–383. https://doi.org/10.2307/2666999 Edmondson, A. C., & Lei, Z. (2014). Psychological safety: The history, renaissance, and future of an interpersonal construct. Annual Review of Organizational Psychology and Organizational Behavior, 1(1), 23–43. https://doi.org/10.1146/annurev-orgpsych-031413-091305
29 January 2026
“Aku Ga Enak Nolaknya”: Belajar Menetapkan Batasan secara Sosial
“Aku ga enak nolaknya.” Kalimat ini sering terdengar ringan, tapi dampaknya panjang. Ia muncul saat tubuh sudah lelah, waktu sudah sempit, atau hati sebenarnya ingin berkata tidak namun mulut memilih mengangguk. Bukan karena mau, melainkan karena takut mengecewakan. Rasa tidak enak menolak jarang lahir dari empati semata. Ia sering berakar pada ketakutan sosial: takut dianggap egois, tidak sopan, atau tidak peduli. Dalam banyak relasi, terutama yang dibangun di atas keharmonisan semu, mengatakan “tidak” terasa seperti ancaman terhadap penerimaan. Psikologi sosial menjelaskan bahwa kebutuhan untuk diterima adalah motivasi dasar manusia. Ketika penerimaan itu terasa rapuh, batasan pun dikorbankan. Kita belajar menyesuaikan diri, bahkan ketika penyesuaian itu melelahkan. Masalahnya, setiap “iya” yang bertentangan dengan kebutuhan diri meninggalkan jejak. Sedikit demi sedikit, muncul rasa kesal, lelah emosional, dan jarak batin. Ironisnya, relasi yang ingin kita jaga justru terasa semakin berat. Menetapkan batasan bukan tentang menjadi kaku atau tidak peduli. Ia tentang kejelasan. Batas memberi informasi pada orang lain tentang apa yang bisa dan tidak bisa kita lakukan. Tanpa batas, orang lain hanya bisa menebak dan tebakan itu sering kali meleset. Penelitian menunjukkan bahwa individu yang mampu menetapkan batasan secara asertif cenderung memiliki kesejahteraan psikologis yang lebih baik dan tingkat stres yang lebih rendah. Bukan karena hidup mereka lebih mudah, tetapi karena mereka lebih jujur pada kapasitas diri. Belajar berkata “tidak” sering kali dimulai dari versi yang sederhana dan tidak defensif. Tidak perlu panjang lebar. Tidak perlu alasan berlapis. Kalimat seperti, “Aku belum bisa,” atau “Aku butuh waktu untuk diriku sendiri,” sudah cukup. Penolakan tidak harus disertai pembenaran. Ada rasa bersalah di awal. Itu wajar. Rasa bersalah sering muncul bukan karena kita berbuat salah, tetapi karena kita sedang melanggar pola lama. Namun, rasa bersalah ini biasanya mereda seiring kita menyadari satu hal: hubungan yang sehat tidak runtuh hanya karena satu kata “tidak”. Menetapkan batasan adalah bentuk tanggung jawab terhadap diri sendiri. Ia bukan penolakan terhadap orang lain, melainkan pengakuan terhadap kebutuhan pribadi. Dan justru dari batas yang jelas, relasi bisa bernapas lebih lega. Karena mengatakan “tidak” pada satu hal sering kali berarti mengatakan “ya” pada kesehatan mental kita sendiri. Dan itu bukan sesuatu yang perlu kita minta maafkan. Toko psikologi terpercaya yang menyediakan jurnal psikologi, alat tes psikologi, dan berbagai produk mental health berkualitas untuk kebutuhan pribadi maupun profesional - www.tokopsikologi.com - Referensi Alberti, R., & Emmons, M. (2017). Your Perfect Right: Assertiveness and Equality in Your Life and Relationships. New Harbinger Publications. Baumeister, R. F., & Leary, M. R. (1995). The need to belong: Desire for interpersonal attachments as a fundamental human motivation. Psychological Bulletin, 117(3), 497–529. https://doi.org/10.1037/0033-2909.117.3.497
Semua Artikel
Postingan Teratas