Bukan Sekadar Detoks Digital: Sensory Healing sebagai Solusi Nyata
13 April 2026
Banyak orang mencoba mengatasi kelelahan mental akibat media sosial dengan digital detox. Namun, menjauh dari layar saja sering tidak cukup. Setelah kembali online, siklus lama seperti doomscrolling kerap terulang. Ini menunjukkan bahwa masalahnya bukan hanya pada teknologi, tetapi juga pada cara tubuh dan pikiran merespons stimulasi berlebih. Di sinilah sensory healing hadir sebagai pendekatan yang lebih mendalam dan berkelanjutan.
Mengapa Detoks Digital Sering Tidak Bertahan Lama
Penelitian oleh Dinilhaq dan Ardoni (2025) menunjukkan bahwa doomscrolling didorong oleh faktor intrinsik dan ekstrinsik, seperti rasa ingin tahu, kecemasan, serta dorongan sosial. Artinya, perilaku ini bukan sekadar kebiasaan, tetapi juga mekanisme psikologis untuk mengelola emosi.
Selain itu, Ibad et al. (2024) menemukan bahwa paparan informasi negatif yang terus-menerus berdampak signifikan pada penurunan kesejahteraan mental. Dalam kerangka teori emotion regulation oleh Gross (1998), individu sering kali menggunakan strategi yang kurang adaptif seperti terus mencari informasi untuk meredakan emosi tidak nyaman, yang justru memperparah kondisi.
Sensory Healing: Pendekatan dari Tubuh ke Pikiran
Berbeda dengan detoks digital yang bersifat “menghindari”, sensory healing berfokus pada “mengganti” pengalaman. Teori polyvagal dari Porges (2011) menjelaskan bahwa sistem saraf manusia merespons rasa aman melalui sinyal-sinyal sensorik, seperti sentuhan lembut, suara menenangkan, atau lingkungan yang nyaman.
Penelitian oleh Peng et al. (2024) juga menunjukkan bahwa stimulasi sensorik seperti getaran lembut (vibrotactile) dapat meningkatkan relaksasi dan kenyamanan emosional. Pendekatan ini bekerja langsung pada sistem saraf, membantu tubuh keluar dari kondisi siaga berlebih menuju keadaan tenang.
Dengan kata lain, ketika pikiran sulit dihentikan, tubuh dapat menjadi jalur yang lebih efektif untuk memulihkan keseimbangan emosi.
Dari Layar ke Indra: Strategi Nyata yang Bisa Dilakukan
Alih-alih hanya “berhenti scrolling”, individu dapat mengganti kebiasaan tersebut dengan pengalaman sensorik:
-
Mendengarkan suara alam untuk menurunkan ketegangan
-
Menggunakan aromaterapi untuk menciptakan rasa nyaman
-
Menyentuh benda hangat atau bertekstur lembut sebagai grounding
-
Mengalihkan fokus ke aktivitas fisik ringan seperti berjalan
Strategi ini membantu membangun regulasi emosi berbasis tubuh (bottom-up regulation), yang sering kali lebih efektif dibanding sekadar mengubah pola pikir.
Kesimpulan
Detoks digital memang bermanfaat, tetapi tidak selalu cukup untuk memutus siklus doomscrolling. Akar masalahnya terletak pada cara individu mengelola emosi dan merespons stimulasi. Sensory healing menawarkan solusi yang lebih nyata dengan melibatkan tubuh sebagai pusat regulasi. Dengan kembali pada pengalaman indrawi, individu tidak hanya menjauh dari layar, tetapi juga membangun ketenangan yang lebih stabil dan berkelanjutan.
Toko psikologi terpercaya yang menyediakan jurnal psikologi, alat tes psikologi, dan berbagai produk mental health berkualitas untuk kebutuhan pribadi maupun profesional - www.tokopsikologi.com -
Daftar Pustaka:
Dinilhaq, M. I., & Ardoni, A. (2025). Motif perilaku doomscrolling di media sosial pada mahasiswa Program Studi Perpustakaan dan Ilmu Informasi Universitas Negeri Padang. Jurnal Pendidikan Tambusai, 9(2), 21784–21793. https://doi.org/10.31004/jptam.v9i2.30487
Gross, J. J. (1998). The emerging field of emotion regulation: An integrative review. Review of General Psychology, 2(3), 271–299.
Ibad, M. C., Aisha, D., & Rahman, P. R. U. (2024). Ignorance is bliss: Doomscrolling terhadap mental well-being pengguna Instagram. Psychopedia: Jurnal Psikologi, 4(2), 123–135. https://doi.org/10.36805/xqxm3z34
Peng, D., Person, T., Shen, X., Pai, Y. S., Barbareschi, G., Li, S., & Minamizawa, K. (2024). Impact of vibrotactile triggers on mental well-being through ASMR experience in VR. arXiv.
Porges, S. W. (2011). The Polyvagal Theory: Neurophysiological Foundations of Emotions, Attachment, Communication, and Self-Regulation. New York: W. W. Norton & Company.