Doomscrolling dan Overstimulasi: Cara Tubuh Membantu Kita Pulih
15 April 2026
Pernah merasa lelah padahal hanya “rebahan sambil scroll”? Tanpa disadari, jari yang terus bergerak di layar membawa otak kita masuk ke dalam banjir informasi yang tak berhenti. Bukan sekadar kebiasaan, doomscrolling dapat membuat tubuh dan pikiran mengalami kelelahan mendalam akibat overstimulasi.
Doomscrolling: Saat Informasi Menjadi Beban Emosional
Doomscrolling sering kali dipicu oleh kebutuhan untuk memahami situasi yang tidak pasti. Penelitian oleh Rahmawati dan Prasetyo (2024) menunjukkan bahwa paparan berita negatif yang berulang meningkatkan kecemasan dan memperburuk kondisi emosional individu. Hal ini sejalan dengan teori negativity bias, di mana individu cenderung lebih peka terhadap informasi negatif dibanding positif (Baumeister, 2001).
Selain itu, dalam kerangka cognitive load theory, beban informasi yang berlebihan dapat mengganggu kemampuan otak dalam memproses dan menyaring informasi (Sweller, 1988). Akibatnya, individu merasa kewalahan, sulit fokus, dan mengalami kelelahan mental.
Overstimulasi dan Sistem Saraf yang Terus Aktif
Overstimulasi terjadi ketika sistem saraf menerima terlalu banyak rangsangan tanpa waktu pemulihan. Dalam teori allostatic load, paparan stres yang terus-menerus akan membebani tubuh dan menurunkan kapasitas adaptasi (McEwen, 1998). Doomscrolling memperpanjang paparan stres ini karena tubuh terus berada dalam kondisi siaga.
Penelitian oleh Hidayati et al. (2023) di Indonesia juga menemukan bahwa penggunaan media digital berlebih berkaitan dengan peningkatan stres dan gangguan kualitas tidur pada mahasiswa. Hal ini menunjukkan bahwa dampak doomscrolling tidak hanya psikologis, tetapi juga fisiologis.
Tubuh sebagai Jalur Pemulihan Alami
Meskipun overstimulasi berasal dari luar, pemulihannya dapat dimulai dari dalam tubuh. Teori somatic experiencing oleh Levine (1997) menjelaskan bahwa tubuh memiliki kapasitas alami untuk melepaskan ketegangan jika diberi ruang untuk merespons.
Pendekatan ini menekankan pentingnya kembali pada sensasi tubuh, seperti napas, sentuhan, atau gerakan sederhana. Aktivitas seperti menarik napas dalam, berjalan santai, atau menyentuh benda bertekstur dapat membantu menurunkan aktivasi sistem saraf dan membawa tubuh kembali ke kondisi tenang.
Langkah Sederhana Mengatasi Overstimulasi
Beberapa strategi berbasis tubuh yang dapat membantu pemulihan antara lain:
-
Menghentikan paparan layar secara berkala
-
Melakukan teknik pernapasan untuk menenangkan tubuh
-
Mengalihkan perhatian ke aktivitas fisik ringan
-
Menggunakan teknik grounding melalui indra (sentuhan, suara, atau visual alami)
Pendekatan ini membantu tubuh keluar dari mode “siaga” menuju kondisi relaksasi.
Kesimpulan
Doomscrolling dan overstimulasi adalah konsekuensi dari paparan informasi yang berlebihan di era digital. Ketika pikiran terasa penuh, tubuh sering kali menjadi kunci untuk memulihkan keseimbangan. Dengan memahami sinyal tubuh dan memberikan ruang untuk relaksasi, individu dapat mengurangi dampak negatif dari overstimulasi. Pada akhirnya, pemulihan bukan hanya tentang berhenti scrolling, tetapi tentang kembali merasakan dan mendengarkan tubuh.
Toko psikologi terpercaya yang menyediakan jurnal psikologi, alat tes psikologi, dan berbagai produk mental health berkualitas untuk kebutuhan pribadi maupun profesional - www.tokopsikologi.com -
Daftar Pustaka:
Baumeister, R. F., Bratslavsky, E., Finkenauer, C., & Vohs, K. D. (2001). Bad is stronger than good. Review of General Psychology, 5(4), 323–370.
Hidayati, N., Sari, D. P., & Nugroho, A. (2023). Pengaruh penggunaan media digital terhadap stres dan kualitas tidur mahasiswa. Jurnal Psikologi Indonesia, 12(2), 101–110.
Levine, P. A. (1997). Waking the Tiger: Healing Trauma. Berkeley: North Atlantic Books.
McEwen, B. S. (1998). Protective and damaging effects of stress mediators. New England Journal of Medicine, 338(3), 171–179.
Rahmawati, D., & Prasetyo, B. (2024). Paparan berita negatif dan kecemasan pada pengguna media sosial. Jurnal Psikologi Sosial Indonesia, 8(1), 45–56.
Sweller, J. (1988). Cognitive load during problem solving: Effects on learning. Cognitive Science, 12(2), 257–285.