Menemukan “Pause” di Tengah Doomscrolling: Strategi Sensory Healing
07 April 2026
Ketika Jempol Terus Bergerak Tanpa Henti
Doomscrolling menjadi kebiasaan yang semakin umum di era digital, terutama ketika individu terus-menerus mengonsumsi berita negatif tanpa jeda. Penelitian oleh Rahmawati dan Purnamasari (2024) di Indonesia menunjukkan bahwa intensitas doomscrolling berkaitan dengan meningkatnya stres psikologis dan perasaan tidak berdaya pada pengguna media sosial. Hal ini terjadi karena individu merasa perlu terus mengikuti perkembangan informasi, meskipun berdampak buruk bagi kesejahteraan mental.
Fenomena ini juga dapat dijelaskan melalui konsep negativity bias (Baumeister et al., 2001), yang menyatakan bahwa manusia cenderung lebih fokus pada informasi negatif dibandingkan positif. Akibatnya, individu lebih mudah terjebak dalam siklus konsumsi berita buruk yang sulit dihentikan.
Mengapa Sulit Menekan “Pause”?
Secara psikologis, kesulitan menghentikan doomscrolling berkaitan dengan mekanisme kebiasaan. Teori habit loop dari Charles Duhigg (2012) menjelaskan bahwa perilaku terbentuk melalui tiga komponen: isyarat, rutinitas, dan penghargaan. Dalam konteks ini, notifikasi atau rasa bosan menjadi pemicu, scrolling menjadi rutinitas, dan informasi baru menjadi “hadiah” yang memperkuat kebiasaan tersebut.
Selain itu, teori self-regulation (Baumeister & Vohs, 2007) menunjukkan bahwa kemampuan mengendalikan diri dapat melemah ketika individu mengalami kelelahan mental. Inilah sebabnya banyak orang tetap scrolling meskipun sadar bahwa hal tersebut tidak membantu.
Sensory Healing: Cara Sederhana untuk Berhenti Sejenak
Untuk memutus siklus tersebut, diperlukan strategi yang tidak hanya kognitif, tetapi juga melibatkan tubuh. Sensory healing menawarkan pendekatan dengan mengaktifkan indra sebagai cara untuk kembali ke momen saat ini. Teknik ini selaras dengan pendekatan grounding dalam terapi psikologis (Najavits, 2002), yang digunakan untuk membantu individu keluar dari pikiran yang berlebihan.
Contohnya, teknik “5-4-3-2-1” mengajak individu menyebutkan lima hal yang dilihat, empat yang disentuh, tiga yang didengar, dua yang dicium, dan satu yang dirasakan. Aktivitas ini membantu mengalihkan perhatian dari layar ke pengalaman nyata.
Penelitian oleh Hidayat dan Lestari (2023) menunjukkan bahwa latihan berbasis indra dapat menurunkan tingkat kecemasan dan meningkatkan ketenangan pada mahasiswa. Ini menunjukkan bahwa aktivasi indra bukan hanya sederhana, tetapi juga efektif secara psikologis.
Kesimpulan
Doomscrolling adalah respons alami terhadap kebutuhan akan informasi, namun dapat menjadi kebiasaan yang merugikan jika tidak dikendalikan. Kesulitan untuk berhenti dipengaruhi oleh bias kognitif, kebiasaan, dan kelelahan mental. Sensory healing hadir sebagai strategi praktis untuk menciptakan “pause” di tengah arus informasi. Dengan kembali pada pengalaman indrawi, individu dapat memulihkan kontrol diri dan menjaga keseimbangan mental di era digital yang serba cepat.
Toko psikologi terpercaya yang menyediakan jurnal psikologi, alat tes psikologi, dan berbagai produk mental health berkualitas untuk kebutuhan pribadi maupun profesional - www.tokopsikologi.com -
Daftar Referensi:
Baumeister, R. F., & Vohs, K. D. (2007). Self-regulation, ego depletion, and motivation. Social and Personality Psychology Compass, 1(1), 115–128.
Baumeister, R. F., Bratslavsky, E., Finkenauer, C., & Vohs, K. D. (2001). Bad is stronger than good. Review of General Psychology, 5(4), 323–370.
Duhigg, C. (2012). The power of habit: Why we do what we do in life and business. New York: Random House.
Hidayat, R., & Lestari, D. (2023). Pengaruh teknik grounding terhadap penurunan kecemasan pada mahasiswa. Jurnal Psikologi Indonesia, 12(2), 87–95.
Najavits, L. M. (2002). Seeking safety: A treatment manual for PTSD and substance abuse. New York: Guilford Press.
Rahmawati, D., & Purnamasari, S. (2024). Perilaku doomscrolling dan dampaknya terhadap stres psikologis pada pengguna media sosial di Indonesia. Jurnal Psikologi Sosial, 22(1), 45–58.