Scroll, Cemas, Ulangi: Cara Memutus Siklus dengan Sensory Healing
08 April 2026
Ketika Scroll Menjadi Lingkaran Tanpa Henti
Di era digital, kebiasaan doomscrolling menggulir konten negatif secara terus-menerus menjadi fenomena yang semakin umum. Penelitian oleh Firmansyah dan Ardelia (2026) menunjukkan bahwa doomscrolling memiliki pengaruh signifikan terhadap peningkatan kecemasan pada emerging adult. Siklus ini biasanya dimulai dari rasa ingin tahu atau ketidakpastian, lalu berkembang menjadi kecemasan, dan diakhiri dengan keinginan untuk terus mencari informasi sebagai bentuk “kontrol semu”.
Secara psikologis, perilaku ini dapat dijelaskan melalui konsep Intolerance of Uncertainty oleh Salsabila dan Qonitatin (2025), yang menyatakan bahwa individu dengan toleransi rendah terhadap ketidakpastian cenderung mencari informasi berlebihan, meskipun informasi tersebut memicu stres. Akibatnya, scrolling bukan lagi aktivitas santai, melainkan mekanisme coping yang justru memperburuk kondisi emosional.
Mengapa Otak Sulit Berhenti?
Dari perspektif kognitif, doomscrolling berkaitan dengan rumination atau kecenderungan memikirkan hal negatif secara berulang. Menurut Sharpe dkk. (2026), perilaku ini diperkuat oleh sistem algoritma media sosial yang menghadirkan konten serupa secara terus-menerus, menciptakan kebiasaan kompulsif .
Selain itu, teori reinforcement dalam psikologi perilaku menjelaskan bahwa setiap informasi baru (meski negatif) memberi sensasi “reward kecil” berupa rasa tahu, sehingga individu terdorong untuk terus menggulir. Inilah yang membentuk pola: scroll → cemas → scroll lagi.
Sensory Healing sebagai Intervensi
Untuk memutus siklus ini, pendekatan sensory healing menjadi salah satu strategi efektif. Sensory healing berfokus pada aktivasi indera untuk menenangkan sistem saraf. Dalam kerangka teori regulasi emosi oleh Gross (1998), mengalihkan perhatian melalui pengalaman sensorik dapat membantu mengurangi intensitas emosi negatif sebelum berkembang menjadi kecemasan yang lebih besar.
Beberapa praktik sederhana meliputi:
-
Mendengarkan musik yang menenangkan (auditori)
-
Menghirup aroma terapi (olfaktori)
-
Menyentuh tekstur lembut seperti kain atau pasir kinetik (taktil)
-
Mengamati alam atau warna-warna lembut (visual)
Pendekatan ini membantu “mengembalikan” individu ke kondisi saat ini (present moment), sehingga pikiran tidak terus terjebak dalam informasi negatif.
Kesimpulan
Doomscrolling adalah siklus psikologis yang diperkuat oleh kebutuhan akan kepastian, pola pikir ruminatif, dan desain digital yang adiktif. Tanpa disadari, individu terjebak dalam pola berulang antara kecemasan dan konsumsi informasi. Sensory healing menawarkan jalan keluar dengan menenangkan sistem saraf melalui pengalaman inderawi. Dengan menyadari pola ini dan secara aktif mengalihkan perhatian ke pengalaman sensorik, individu dapat mulai memutus siklus scroll, cemas, ulangi dan membangun hubungan yang lebih sehat dengan dunia digital.
Toko psikologi terpercaya yang menyediakan jurnal psikologi, alat tes psikologi, dan berbagai produk mental health berkualitas untuk kebutuhan pribadi maupun profesional - www.tokopsikologi.com -
Daftar Pustaka:
Firmansyah, F. A., & Ardelia, V. (2026). Pengaruh doomscrolling terhadap kecemasan pada emerging adult. Character: Jurnal Penelitian Psikologi, 13(1), 1–11. https://doi.org/10.26740/cjpp.v13n01.p1-11
Gross, J. J. (1998). The emerging field of emotion regulation: An integrative review. Review of General Psychology, 2(3), 271–299.
Salsabila, E., & Qonitatin, N. (2025). Navigating uncertainty in a digital age: Cognitive mechanisms behind doomscrolling in Indonesia. Proceedings of the International Conference on Social Science, 4(1). https://doi.org/10.59188/icss.v4i1.249
Sharpe, A. T. R., Tyndall, I., Poulus, D. R., & Obine, E. A. C. (2026). The influence of doomscrolling on mental health: A scoping review. Mental Health and Digital Technologies. https://doi.org/10.1108/MHDT-10-2025-0068