Tenangkan Pikiran: Sensory Healing sebagai Pelawan Domscrolling | Toko Psikologi

Tenangkan Pikiran: Sensory Healing sebagai Pelawan Domscrolling

16 March 2026

Doomscrolling adalah kebiasaan terus-menerus menggulir informasi negatif di media sosial atau berita digital, sering kali tanpa disadari. Kebiasaan ini membuat individu terus terpapar kabar yang memicu kecemasan, ketidakpastian, atau ketegangan emosional. Dalam jangka panjang, paparan informasi negatif yang berulang dapat meningkatkan stres psikologis dan menurunkan kesejahteraan mental.

Penelitian dalam psikologi media menunjukkan bahwa paparan berita negatif yang berulang dapat meningkatkan respons stres dan memperkuat persepsi ancaman terhadap lingkungan sekitar (Holman, Garfin, & Silver, 2014). Ketika seseorang terus mengonsumsi informasi yang memicu kecemasan, otak cenderung berada dalam kondisi alert mode, yaitu keadaan siaga yang membuat tubuh sulit untuk benar-benar rileks. Akibatnya, individu dapat mengalami kelelahan mental, kesulitan fokus, dan peningkatan kecemasan tanpa disadari.

 

Sensory Healing sebagai Pendekatan Menenangkan Sistem Saraf

Sensory healing merupakan pendekatan yang memanfaatkan pengalaman sensorik seperti sentuhan, suara, aroma, atau visual untuk membantu menenangkan sistem saraf. Dalam psikologi dan ilmu saraf, stimulasi sensorik yang menenangkan dapat membantu tubuh berpindah dari kondisi stres menuju keadaan yang lebih stabil dan rileks.

Porges (2011) melalui Polyvagal Theory menjelaskan bahwa sistem saraf manusia sangat responsif terhadap rangsangan lingkungan. Ketika seseorang menerima rangsangan yang menenangkan misalnya suara lembut, aroma tertentu, atau sentuhan yang nyaman sistem saraf dapat beralih dari mode pertahanan menuju kondisi yang lebih aman dan stabil. Inilah alasan mengapa pengalaman sensorik sederhana, seperti mendengarkan musik tenang atau berjalan di alam terbuka, dapat membantu menurunkan ketegangan emosional setelah terpapar informasi yang memicu stres.

 

Menggunakan Indra untuk Mengurangi Dampak Doomscrolling

Sensory healing tidak selalu memerlukan terapi formal. Banyak aktivitas sederhana yang dapat membantu menenangkan pikiran setelah seseorang menyadari dirinya terlalu lama terjebak dalam doomscrolling.

Beberapa praktik sensorik yang dapat membantu antara lain:

  • Stimulus visual yang menenangkan, seperti melihat pemandangan alam atau cahaya yang lembut. Penelitian menunjukkan bahwa paparan visual alam dapat menurunkan tingkat stres dan meningkatkan kesejahteraan emosional (Ulrich, 1984).

  • Stimulus suara, misalnya musik instrumental atau suara alam seperti hujan dan ombak yang dapat membantu menenangkan pikiran.

  • Stimulus sentuhan, seperti memegang benda bertekstur lembut atau melakukan peregangan ringan untuk membantu tubuh kembali sadar pada sensasi fisik.

  • Stimulus aroma, seperti minyak esensial lavender atau peppermint yang diketahui dapat membantu relaksasi.

Aktivitas sensorik semacam ini membantu mengalihkan perhatian dari arus informasi digital ke pengalaman tubuh secara langsung. Dengan kata lain, individu belajar kembali hadir pada pengalaman saat ini (present moment), bukan terus terjebak dalam aliran berita yang memicu kecemasan.

 

Menyeimbangkan Konsumsi Informasi dan Kesehatan Mental

Di era digital, sepenuhnya menghindari informasi bukanlah hal yang realistis. Namun, yang dapat dikendalikan adalah bagaimana seseorang mengelola paparan tersebut. Mengintegrasikan praktik sensory healing dalam kehidupan sehari-hari dapat menjadi strategi sederhana untuk menjaga keseimbangan antara konsumsi informasi dan kesehatan mental.

Kross dkk. (2013) menjelaskan bahwa penggunaan media sosial yang tidak terkontrol dapat meningkatkan perasaan tidak nyaman secara emosional. Oleh karena itu, penting bagi individu untuk memiliki strategi pemulihan psikologis setelah berinteraksi dengan media digital. Sensory healing menawarkan cara yang relatif mudah dan alami untuk membantu sistem saraf kembali tenang setelah terpapar arus informasi yang intens.

Sebagai lembaga yang bergerak dalam bidang layanan psikologi, Smile Consulting Indonesia berkomitmen untuk menghadirkan edukasi psikologis yang membantu masyarakat memahami hubungan antara teknologi, emosi, dan kesehatan mental. Melalui pendekatan psikologi terapan, masyarakat dapat belajar mengelola stres digital secara lebih sehat dan seimbang.

 

 

 

Referensi:

Holman, E. A., Garfin, D. R., & Silver, R. C. (2014). Media’s role in broadcasting acute stress following the Boston Marathon bombings. Proceedings of the National Academy of Sciences, 111(1), 93–98.

Kross, E., Verduyn, P., Demiralp, E., Park, J., Lee, D. S., Lin, N., … Ybarra, O. (2013). Facebook use predicts declines in subjective well-being in young adults. PLoS ONE, 8(8).

Porges, S. W. (2011). The polyvagal theory: Neurophysiological foundations of emotions, attachment, communication, and self-regulation. New York: W. W. Norton & Company.

Ulrich, R. S. (1984). View through a window may influence recovery from surgery. Science, 224(4647), 420–421.